Sabtu, 13 Agustus 2011

Terima kasih untuk Ayahku yang Semi-Militer dan Agak pelit

Ayah
Ayah adalah seseorang yang sangat berperan dalam kehidupan saya. Ayah saya seperti kebanyakan Ayah yang lain. Namun, bagi saya Ayah saya adalah Ayah nomer satu di dunia. Ayah adalah seseorang yang sangat disiplin. Beliau disiplin dalam segala hal, disiplin waktu, displin dalam kerja dan displin dalam keuangan. Ayah tidak pernah bisa menganggur, beliau selalu menyibukkan dirinya sendiri dengan berbagai kegiatan, baik kegiatan ringan maupun kegiatan yang menyebakan putra-putranya sedikit banyak terlibat. Saya masih ingat betul setiap hari minggu baik saya ketika masih SMA maupun saya libuaran kuliah, saya hampir tidak pernah berleha-leha untuk merebahkan tubuh malas ini. Kalian tau kenapa? itu karena saya selalu mendengar suara beliau yang sedikit berisik dengan berbagai kegiatan-nya, dan mau tidak mau saya harus berpartisi dalam ceremonila tersebut, walaupun hanya sekedar setor muka saja (sory yah..). padahal dalam pikiran saya sunday is holiday, but at the real, sunday is tired day ( tau ni grmaernya salah ato bener yang penting nulis).

Disaat saya masih SD, Ayah adalah petani yang sangat rajin, beliau sering pulang malam dan berangkat sebelum sang mentari terbit. Ayah, suka menengok sedikit lahan pertaniaan kami (mirip dengan kakek). Ketika pulang dari kantor, beliau menyempatkan istirahat sejenak sekedar makan bersama dan menanyakan bagaimana sekolah kami. Sehabis isak beliau pun memlanjutkan aktivitas-nya untuk mengecek sistem perairan sawah kecil kami. Terkadang, kalo beliau tidak sempat melakukannya dimalam hari. Pagi dini hari beliau melakukan kegiatan tersebut, dan pulang ketika adzan subuh terdengar.. (hard worker yah). Namun, setelah saya beranjak SMA, Ayah sudah tidak melakukan kegiatan tersebut, mungkin karena kesibukan beliau dengan berbagai pekerjaannya, baik kantor atau pun bahan kimia yang saya tidak banyak mengerti. mungkin juga hati Ayah lebih condong kepada bahan-bahan kimia, dari pada lumpur dan air sungai. Oya, Ayah saya bekerja di lab. perusahaan tradisional pada divisi reserch and development. Di tempat kerja ini lah, beliau menemukan bidarinya (ibu saya) yang merupakan atasanya (ibu saya adalah QC).

Ayah saya adalah profesor bagi saya. Yah..profesor serba bisa. Ayah sering membuatkan kami, beberapa produk kebutuhan sehari-hari, yang tidak pernah terfikirkan oleh saya, seperti membuat sampo, sabun, hand and body lotion, minyak telon, obat batuk, balsem dll. (saya tidak tahu, apa maksud Ayah? apakah kami adalah kelinci percobaan baginya, atau Ayah ingin menunjukkan bahwa ini lho produk Ayah, atau mungkin biar irit kali ya.. hohoho). Namun, kami cocok menggunakan semua invoasinya, dan tak jarang beberapa tetangga meminta kreasi Sang profesor tersebut untuk mereka konsumsi. Suatu ketika ada tetangga yang sakit batuk, dengan ijin Alloh Ta'ala beliau meminum obat buatan profesor saya, alhamdulillah sembuh. Seminggu setelah Beliau sembuh, beliau memberikan Sebotol Kecap Banggo hitam berukuran Besar kepada Ayah, "Pak Dhe ini buat Masak Budhe" kata beliua kepada Ayah. Melihat itu saya merasa sangat kagum pada Ayah. Dari kejadian tersebut, beberapa produk kreasi sang profesor di jual oleh Ayah maupun tetangga, keluar daerah disaat Ayah Pensiun, lumayan untuk menopang kehidupan kami dan memberikan kegiatan serta berbagi pekerjaan kepada para tetangga. Oya, kakak kedua saya yang paling sering menggunakan semua inovasi Ayah ketika dia kualiah.

Ayah saya adalah Ayah semi militer. Kedisiplin Ayah, tidak pernah berkurang dan tidak pernah pandang bulu. Saya masih ingat betul ketika kecil, saya menangis tak henti-henti karena sesuatu hal. Entah apa yang dibenak beliau, saya langsung digendong di dimasukkan kedalam bak mandi yang tinggi nya sedada saya waktu itu. "Kalo kamu berhenti menangis, Ayah akan mengankat mu" Kata Ayah dengan serius. Sejak saat itu saya selalu berhenti menangis jika Ayah menyuruh "Diam".

Makan Lesehan adalah favorit Ayah dan keluaraga kami. Ketika makan bersama Ayah, selalu mengusahkan kita untuk selalu tidak berdebat. Maklum karena kami berempat laki-laki semua, pejantan yang memiliki ego tinggi (sebenarnya lima bersaudara, "padawa lima" kalo kata orang jawa, namun kakak saya nomer dua, mendahului kami ketika masih bayi). Terdakang kami sering bertengkar kecil ketika makan bersama, terutama saya dan kakak saya nomer tiga. Tak ada angin tak ada hujan, Ayah langsung menampar saya dan berkata diam (sakit rasanya, mau nangis tapi malu didepan semua kakak saya). Hal, itu dilakukan Ayah untuk menyudahi pertengkaran kecil saya dangan kakakku yang tampan tersebut (tapi, mengapa aku yang kena tampolan tersebut?, kenapa tidak kakakku? ah, ya sudah lah setidaknya saya menjadi tidak cengeng lagi). Hal itu, ada hikmahnya juga, mungkin supaya kami tidak tersedak ketika makan, dan supaya kami cepat menyelesaikan makan.

Teringat makan, teringat lauk-pauk. Ayah beserta bidadari kami (ibu saya, lha soalnya, ibu saya tercantik dirumah tidak ada perempuan lain selain beliau, setelah kakek meninggal, ibu punya pesaing berat yaitu nenek kami) selalu membawa pulang semua jatah lauk mereka berdua, untuk diberikan kepada kami. Terkadang jatah lauk Ayam, dibagi oleh ibu menjadi empat bagian, dan terkadang bandeng presto spesial. Makasih Ibu dan Ayah , :( 

Ayah selalu disiplin dalam sistem keuangan. Setiap habis gajian Ayah selalu menuliskan pengeluran berdasarkan skala prioritas. Yang selalu menjadi sekala pertama adalah SPP, tepatnya SPP kami berempat, setelah itu baru kebutuhan yang lain. Prinsip Ayah "Pendidikan adalah Nomer satu". Ayah pernah berkata kepada mertua dari pernikahan kakak pertama saya, ketika melamar kakak ipar saya, beliau mengatakan bahwa "kami adalah keluarga sederhana, kami tadik memiliki harta yang berharga, namun kami memikili investasi pada pendidikan" (menyentuh Yah, bangga rasanya).

Pelajaran management keuangan sudah ditanamakan Ayah sejak dini, yaitu ketika memberikan uang saku kepada putra-putranya. Pada saat sekolah SD, kami diberikan uang saku harian, memasuki SMP, uang saku diberikan mingguan  dan SMA serta Kuliah uang saku di berikan bulanan. Tujuan dari semua itu supaya kami mampu mengatur semua kebutahan kami masing-masing, dan tanggung jawab terhadap pengeluaran tersebut. Ayah memberikan kebebasan kepada kami dalam menggunakan uang tersebut, asal bermanfaat, terserah mau sekali habis sebelum jatah refiil, atau mau dibuat sisa untuk ditabung, tak jarang saya berpuasa jajan selama beberapa minggu agar bisa membeli perangkat komputer atau pun kaos kesenangan saya. Di saat kuliah saya lebih sering besar pasak dari pada tiang listrik (hehe), ya iya lah kebutuhan ngeprint tugas, jilid, fotokopi buku, kegiatan lapangan dan sebagainya yang mungkin tidak diketaui oleh Beliau (maklum, Ayah Lulusan SMA, SMA yang sangat luar biasa). Al-hasil saya mencari pekerjaan sampingan ketika kuliah, baik jaga toko (toko bude saya tepatnya, tapikan lumayan, dapet 10 ribu kalo mengantar barang, dan terkadang dapet 50 ribu/bulan kalo mengantar jemput keponakan saya yang manja dengan segala kegaitannya yang tidak pernah saya lakukakan selama SMP, bukan manja deng..dimanjakan hehehe pis nak), sampai mengajar di Bimbel, asisten maupun projek-projek yang tidak jelas, yang penting halal lah. Dan, Al-hamdulillah nya saya mendapatakn beasiswa sejak semester kedua hingga akhir kuliah. Jadi sedikit membuat saya bernafas panjang.. hohohoho.

Ayah adalah seseorang yang sangat Marah, ketika kami pulang telat. Pernah suatu ketika, kakak pertama saya pulang terlambat, lebih dari jam 9 malam. Ternyata kakak pertama saya, ketiduran naik bus, ketika pulang sekolah kegiatan ekstra, hingga ke arah kota Sragen, hingga Ayah memacu motor tua-nya menuju Jalan Raya Solo-Sragen, untuk menunggu semua kendaran bus yang lalu lalang, yang biasa Kakak saya tumpangi. (Kakak Pertama saya Sekolah di SMA terfavorit di Kota Solo jadi agak jauh dari rumah, Namun bakat itu tidak menurun pada adik-adiknya termasuk saya, kami sekolah SMA di tingkat Kabupen saja). Ada lagi cerita Ayah marah, Ketika kembaran saya pulang telat ketika selasai Les Bimbel di Solo. Awalnya kami berangakat bersama, dan ketika pulang dia memberi tahu kalo dia Pulang bersama Udin (Sahabat dekat kami,yg sudah seperti saudara), Namun meraka tidak memeberi tau saya kalo mereka pergi ke Gramedia (Kalo gak salah ingat), dan maklum saja, waktu itu kami belum boleh menggunakan HP (ah, tepatnya tidak mampu membeli HP hehehe) sehingga tidak ada komunikasi dua Arah. Sudah tentu ketebak, Saya di tanya-tanya oleh Ayah saya dan Ayah Udin, "kemana merka berdua, tadi pulang kenapa gak bersamaan, kenapa, kenapa, kenapa" Serasa saya adalah tersangka maling Ayam yang diintrograsi oleh Petugas kepolisan (keliatnnya ini agak berlebihan, tapi ini benar saya alami, so sad, tak berdaya menjawab) Dan Satu jam setelah itu, mereka pun muncul dengan wajah tak bersalahnya (kurang ajar kalian... jadi saya yang kena marah nih). Dibalik Wajah marahnya, tersimpan hati yang khawatir. Ya, Seorang Ayah, mungkin Marah karena Beliau Khawatir, waktu itu mungkin pertama kalinya kami punya SIM, Ayah khawatir kalo kita kelayapan kemana-mana, ke Arah yang tidak jelas. Padahal Ayah Tau bahwa kami sudah beranjak 17 tahun waktu itu, mungkin itu tadi kekhawatiran seorang Ayah kepada putra-putranya.

Ayah adalah anak yang sangat sabar dan berbakti. Ayah saya dengan segala kesibukan-nya Beliau merawat dan menyapih nenek saya sampai sekarang dengan Bidadri saya (mereka berdua bekerja sama dengan sangat kompak). Namun, beberapa bulan ini Bidadari kami sakit, Kaki beliau musti di Gip dan berjalan menggunakan krek (tongkat penyangga tubuh), Ayah dengan sabar merawat mereka berdua, tak jarang mereka bertiga (ya bertiga, karena ditambah cucu kesayangannya, anak pertama dari kakak saya). Keren yah, semoga suatu saat nanti aku bisa merawat dan menyapih kalian berdua, walaupun itu semua tidak akan bisa membalas semua budi baik Kalian berdua (bidadara dan bidadari ku).


Ayah terimakasih untuk semua nya, Ayah, maaf kan aku telah membuatmu khawatir, telah membuat mu pusing dengan segala rengekan dan permintaan ku, Ayah maafkan aku telah makan beras mu banyak sekali...

Terimkasih untuk Ayah ku yang Agak Pelit. 


"I love u dady, I am pround to be your son"

Sabtu, 06 Agustus 2011

Di antara persimpangan

Keliahatannya akhir-akhir ini demam bimbang merasuk dalam tubuh ku. Kebimbangan diantara persimpangan yang tidak berujung. Entah kenapa, beberapa hari ini merasa galau. Ketika mendengar beberapa teman saya mau resign untuk pindah kerja dan ada lagi teman saya, yang mau berangkat ke asutrali  dan ke jerman bulan  September dan Desember, teman yang lain telah sidang Tesis serta ada teman yang mengasih undangan pernikahan. Sedangkan saya... hanya duduk disini, menuliskan semua 4g (gelisah galau gundah gulana)..
Sebagai manusia biasa, tentu kita memiliki tujuan dan arah masa depan. Hal inilah yang membayangi pikiran saya. 

"Apakah saya harus fokus pada pekerjaan ini, atau kah saya harus fokus untuk mencari beasiswa, atau apakah saya musti menikah?"

Pertama, Kalo di tanya pekerjaan, jujur tempat saya bekerja sekarang sangat menyenangkan, penuh dengan kehangatan dan kekeluargaan, di sini saya bisa melakukan aktivitas apa pun dengan bebas dan leluasa. Disini saya memiliki banyak saudara yg sering menasehati dan mensuport saya. Bukannya saya tidak bersyukur, saya merasa sangat bersyukur, bisa kerja di tempat sekarang, dengan segala keramahan dan keharmonisan, Namun rasanya kurang ada "challenge". Saya mengingkan sesuatu hal yang baru, yang berbeda dan menantang. 

Kedua, Sekolah/Beasiswa. Sebenarnya saya telah mendaftar beberapa beasiswa, baik di dalam negri maupun di luar (swasta maksudnya.. hahahaha). Pernah saya di hubungi oleh salah satu Universitas negri ,bahwa saya harus datang ke Universitas tersebut untuk mendengarkan pembekalan dan wawanacara dengan salah satu Doktor di Universitas tersebut. Namun sayang nya, saya sedang tugas ke luar Jawa. Hingga akhirnya saya memohon waktu, untuk menjadwal ulang. Untuk pembekalan tidak jadi masalah, sedangkan untuk wawancara musti di lakukan, dan ternyata berdasarkan pengalaman teman saya yang telah menerima beasiswa, dia bisa wawancara melalui teleconfren atau skype. Beberapa hari setelah lapangan saya menyempatkan untuk datang ke Universitas tersebut bertemu dengan Admin panitia penerima beasiswa. Informasi yang saya peroleh, bahwa saya masih bisa mengikuti proses seleksi tersebut. Semua ketertinggalan baik Proposal, Toefl bisa disusulkan dalam waktu satu minggu. Dalam hati saya bergumam "ah, pasti bisa, InsyaAlloh". Seiring dengan semangat saya, ternyata di kantor terjadi berita yang menggembirakan pula. Setelah satu tahun bekerja terdapat kenaikkan kesejahteraan.Rasa Syukur pun terucap dari manusia yang lemah iman ini. "Alhamdulillah Yaa Robb". Disisi yang lain, badai kebimbangan menerpa diri saya kembali. Antara kenyataan dan keyakinan di uji disini. Kenyataannya kebutuhan saya terhadap beberapa uang untuk mencari sesuap nasi masih sangat..sangat diperlukan, dan alhamdulillah sekaarang bisa nabung dikit2 hehehe.., Namun, keyakinan saya mengatakan "mumpung masih muda saatnya menuntut ilmu setinggi mungkin". Saya jadi teringet teman di UI, he said "mas,sekolah lagi aja mas..mumpung belum ada beban yang lain". Bener juga kata Bapak tersebut..(thanks Bapak Pajak yang baek hati).

Ketiga, menikah. Semua orang pasti ingin menikah, membina keluarga yang hangat, sakinah ma wadah wa rohmah. Saya pun juga ingin seperti itu adanya. Ada seorang teman yang mengatakan kepada saya "kamu kan dah kerja, kapan menikah? dah mapan? kurang apa lagi, coba kalo kamu nikah sekarang, dan memiliki keturunan yg luar biasa, maka disaat kamu sudah berumur, maka putra-putrimu sudah bisa mandiri. Jangan seperti kami yang terlalu asyik dengan dunia kami sendiri, sehingga memiliki buah hati disaat kami  sudah mulai letih bekerja" Hati kecil saya pun sebenrnya mengiyakan semua itu ,  sambil bercanda dari bibir ini masih saja terceloteh kata-kata  "mapan kasur? tempat tidur? gampang mah itu..hehehe".  

Semoga saja hal ini tidak berlanggsung lama, semoga saya mendapatkan petunjuk dari-Nya... Amin Yaa Alloh.

Terima kasih atas segala Kenikmatan yang telah engkau anugerahkan kepada hamba.
Semoga hamba tidak menjadi seseorang yang kufur atas segala kenikmatan yang tak terhingga ini.
-Amin- 

Senin, 01 Agustus 2011

sabtu-minggu part2

Kembali lagi bersama mamejo (mamelandmodjojo) hehehe.. :D
Ketika masuk Kota Depok, yang kami rasakan adalah udara sejuk. Sayangnya, hal itu berlangsung tidak lama, hal ini dikarenakan pepohonan yang rindang hanya beberapa meter saja dari Jalan Margonda. Margonda hampir sama dengan jalan pasar minggu, padat merayap. Sepintas kontruksi bangunan nya mirip dengan jalan raya solo-jogja, cuman bedanya, di Jl.Margonda banyak sekali Mall atau pusat perbelanjaan. Dalam hati, bertanya "apa semua orang yang masuk mall itu pada beli barang ya" kok semua mall rasanya penuh dan ramai, kalo benar adanya berarti sebenarnya banyak orang kaya di negeri ini. Ah, biarkan saja..pusing kalo mikirin negeri ini..hehehe, 

kembali kepetulangan kami.

Saya mencoba bertanya kepada bapak DKK (mungkin kali, soalnya pakai seragam Orange ,maap lho pak kalo salah) "Kemanakah arah GDC". Beliau pun menjawab "lurus saja kalo ada lampu merah kedua belok kiri" em..benar sekali, Tak lama kemudian, kami pun melihat papan GDC (Grand Depok City), Wah ternyata kompleksnya enak, jalanan halus, dan kanan kiri pun masih ada tanggul yang tinggi untuk bermain para anak-anak, and i say to princess "ni, mirip Solo baru bund, tata letaknya mirip sekali" kami pun, menyusuri jalan sambil memperhatikan papan nama bertuliskan blok F komplek melati. Kata orang "malu bertanya sesat di jalan, banyak tanya malu-maluin"..hehe tak tambahi sendiri. Sekali lagi saya bertanya kepada paman tukang yang simbuk dengan anyaman bambunya "kalo blok F kompleks melati dimana ya pak", jawabanya simpel dan jelas "lurus saja, paling mentok sono, nanti lewati jembatan" emm.."terimakasih pak" jawab saya dengan senyum mengembang dan kepala menganguk, maklum kebiasan orang jawa. Di jalan dekat kompleks kita ketemu dengan beruang naik motor, eh salah, ternyata boneka beruang berukuran orang dewasa, enak kali ye kalo bobok sama dia..hehehe. Sekitar lima menit kemudaian kita sampai, dan ternyata acara syukuran yang saya pikir sederhana, hanya sekedar makan-makan saja itu salah.."ups sory princess". Pak Atang sebagai yang punya hajat, pakai beskap beserta asesoris lengkap, menyambut kami. Para tamu undangan kebanyakan memakai pakaian batik, selain itu ada orgen tunggal yang suaranya penyanyi nya keren abis.. secara tidak sadar kami pun tiba-tiba ngefen's sama mbaknya (penyanyi) suaranya mirip kaset rekaman, high recomend lah..
Disana saya ketemu empik, anaknya pak atang yang baru saja di dipotong sebagian harta berharganya.. saya tanya "dah kering belum", eh dia malah mau buka celana, hahaha jadi ngakak saya.. jangan di sini dunk nak.. malu di liat tante tu.. tante? tantenya siapa?

Ini dia yang punya hajat

Tanpa, basa-basi saya dan princess, langsung saja ambil makan, dimulai dari makanan sejenis soto, es cream, puding dan buah-buhan.. tidak di sangka rombongan, teman-teman pun datang. saya sempatkan bertanya ke mas topek kalo ke Pulaugadung lewat mana mas? dia pun menjelaskan panjang lebar, saya tidak mengerti dan hanya mangut-mangut aje..Langit tidak berbanding lurus dengan suasana hati saya, dia berawan dan menghitam. Dan inilah saatnya untuk beranjak pulang. Keluar dari kompleks permumahan Pak Atang kami pun di sambut dengan isak tangis dari sang langit (gerimis kawan,lebay banget keliatannya). Saya pun berhenti membuka jok motor andalan saya, dan ternyata yang ada hanya sepasang jas hujan egois (karena hanya bisa dipakai satu orang hohoho). Saya pun meminta princess untuk memakainya.."lha kamu gak pakai" tanya dia kepada saya, tenang jaket saya bagus kok, ini anti air (maksudnya jangan sampai kena air, kalian tau kawan, supaya Princess mau memakainya, dan ternyata berhasil hehehe)..

Sepanjang perjalanan hujan tak kunjung reda, dan malah semakin menjadi saja, kita sempat berteduh sebentar untuk mendiskusikan rute pulang.. "kita keliatannya gak sempet ke danau UI dan makan durian deh, kita langsung pulang ke kostan dulu, baru saya nganter kamu ke palau gadung naik taxi" kata saya. Princess pun menjawab, "tenang mamen kamu gak usah ngeterin aku". Wah gak bisa dunk, saya harus nganter kamu sampai rumah bude mu. Dalam hati saya berkata "saya tau princess bisa pulang sendiri, cumaan sebagai laki-laki saja punya tanggung jawab untuk menyerahkan kembali, dia pada orang tua dengan selamat, mana sudah saya ujan-ujani lagi..masak mau di biarin pulang sendirian". Ok lah kalo begitu, saya dan princess pun melanjutkan perjalanan, hal yang saya takutkan terjadi pula..motor andalan saya mogok kawan..Dia terlalu banyak minum air. Terang saja Jalan Margonda selebar itu, tiba-tiba berubah menjadi lautan coffeemix, mana arusnya deras lagi. "wah ini kota kok, drainasenya gak well banget" (maklum alumnus sekolahan lingkungan).

Merapat ke pasar minggu, hujan sudah mulai reda..namun mengarah ke tebet, langit kembali tidak bersahabat..hujan deras ini sedikit membuyarkan pandangan saya, untungnya princess memiliki pandangan yang tajam. "Kuningan belok Kiri", "siap bund"..jawab saya. Setalah belok kiri, seharusnya saya lurus, eh malah belok kiri lagi, ya sudah puter balek dan dalam beberapa menit kami sampai di perempatan mampang. Saya pun langsung memacu motor menuju kostan kearah setiabudi. Untung saja di dekat kostan ada taxi yang stand by, sayang nya sang sopir yang terhormat, lupa alamat kostan saya, padahal didepan tadi saya sudah menyebutkan alamat kost itu, terpasak musti ujan-ujanan lagi nyusul pak sopir. Sesampai di kost saya langsung melepas semua kostum yang berat karena terlalu porositas terhadap air hujan. Dan, memasukan beberpa pakaian ganti dan mainan alphabet untuk jagoan kecil saya.(sebenarnya saya gak tau apakah, dia sudah paham ato belum, cumaan menurut saya mainan ini ada education-nya)

Menjelang magrib Saya dan princess menuju ke pulaugadung, rasa dingin menusuk daging saya, dan pakaian berlapis-lapis saya kenakan untuk menghangatkan badan. Sesampai disana ternyata kondisi rumah sepi, mungkin pada istirohat. Sehabis sholat maghrib saya pamit ke stasiun senen. Princess, menawari saya untuk mengantar ke jalan depan menuju transportasi umum, ditengah jalan dia ingin menggajak adeknya untuk mengatar saya ke senen, dalam hati saya merasa senang, tapi disatu sisi saya khawatir kalo dia kelelahan. Dan ternyata, adeknya sedang keluar untuk malming (mungkin). Princess tetap ngotot untuk ikut ke stasiun senen, heeeeeeeeeeeeem... bingung lagi saya, eh, salah bingung campur seneng, "lha kamu kan ijinnya ke Ibu, cuma ke jalan depan bukan ke senen" kata saya. Kan tadi dah ijin sama Bapak, dia pun menjawab.

Hahaha, akhirnya kami pun menuju kesenen dengan taxi.
Senang dan Khawatir, itu lah yang saya rasakan,
Senang, karena biasnya diantar kondektur P20, namun hari itu tidak biasa bagi saya, pasalnya, keberangkatan saya diantar princess.Hohoho.. Khawatir, karena "wah, ini anak nanti kena marah gak ya" tapi yang saya paling utama khawatirkan adalah "saya takut kalo dia sakit" Dah kehujanan, ke senen gak bawa jaket, mana pakai kaos yg tadi belum kering lagi (keliatannya saya terlalu berlebihan, sebenarnya princess adalah perempuaan yg tangguh dan tidak mudah jatuh)

Stasiun senen, seperti biasnya ramai dan bergariah semangat para mudiker (orang yg mau mudik, yg mungkin rindu akan sanak-saudaranya). Setelah makan, kami sholat isyak. Habis itu kita mengobrolkan beberapa kebanggan kami, Tema kami tentang...? Yaa.. "anak kecil" kalo bagi saya tepatnya "anak cacat" (calon cantik hehehe). Princess bercerita dengan riangnya tentang beberapa anak didiknya yang luar biasa, kekhawatiran saya mulai memudar.. kami larut dalam dialog bahagia ini, hingga jam 8 malam. Sebenarnya Princess ingin mengantarkan saya, sampai kereta saya berangakat, bak video klip di tipi-tipi (hahahaha, untuk kali ini saya kembangkan kreasi saya sendiri)

at Stasiun Senen, menunggu kereta, tepatnya menunggu tiket kereta (lha, belum dapet tiket soalnya)

Sampai akhirnya dengan berat hati saya mengucapkan "Baiknya kamu pulang bund, sudah malam". Saya pun mengantar princess, untuk mencari taxi. Alhamdulillahnya baru melangkah beberapa meter, di depan ada taxi yg baru saja menurunkan penumpangnya.

bye..bye princess..

thanks for today princess.. ^_^ 
-kalo ada waktu kita berpetualang ke Bromo and Sempu Beach..yok.. syukur-syukur bisa bareng RGB.-

Saya pun melanjutkan petualangan sabtu-minggu tanpa princess.. menuju ke Surakarta Hadiningrat.
Pukul 8.30 Kereta senja saya sudah menampakan batang hidungnya, emang kereta punya hidung?. 
Gerbong I kursi 6A. Untuk pemberangkatan dari senen gerbong saya masih sepi, beranjak ke jatinegara gerbong mulai penuh. Turun dimana mas? seorang penumpang disebelah saya bertanya kepada saya. "solo jawab saya" . Dia keliatan lebih berumur dari saya. Lalu pertanyaan itu berlanjut pada , "liburan kuliah mas? semester berapa? " wah, saya jadi bingung ni, perasaan kalo di kantor saya di tanya "keluarganya di solo atau di jakarta mas" ni orang tanya semester berapa? serasa tiba-tiba muda lagi hehehe (lha emang masih ingusan kok) "wah dah lulus saya mas"..saya jawab dengan mengantuk, mana mata saya tinggal beberapa watt..bentar lagi dah redup nih. Saya pun bertanya sekenanya, kerja dimana mas? "Ciputra", katanya. dia melanjutkan "saya sedang proyek kok mas, baru semester 7", lho masih mahasiswa to..dalam hati saya berkata. Ternyata dia anak Teknik Sipil UNDIP, yg sedang mengerjakan proyek dosen untuk pengembangan bangunan di ITC Ambasador. Hebat juga mas-nya, belum lulus dan berkecimpung di dunia kerja. Jadi inget masa-masa kuliah banting-tulang, mencari sesuap nasi sampai harus melang-lang buana di Pulau jawa, dari ujung barat sampai ujung timur.

"Mas saya tidur di bawah ya", (maksud saya ngesot di bawah nGelar kertas koran dan menyewa bantal) kata saya kepada mas mahasiswa (lha gak sempet kenalan). "Oya" jawab dia, 5 menit setelah itu semua terasa gelap dan bulu mata saya pun sudah tertata rapi menempel pada wajah letih ini. Tidur ngesot dibawah ternyata sangat menyenangkan, semua tulang belakang saya mendapatkan hak yang sama, untuk bersandar pada lantai kereta. Pukul 4.30 saya pun terbangun, karena dinginnya udara yg menyelinap diantara sela-sela sambungan kereta. Ternyata saya tertidur sangat pulas (mungkin dasar saya-nya yg kebo, gak bisa nahan tidur kalo ada bantal..hahaha). Jam 5.30 saya mau ambil air wudu di toilet, kok ramai sekali, dari tadi banyak orang yg mengantri di toilet, kedua ujung gerbong kereta tersebut. Tayamum saja lah, mungkin airnya dah habis juga, lagian islam itu kan mudah. Selesai sholat, saya mau sms kepada bapak, ternyata baterai saya low bat. Ah, ya sudah lah, nanti cari cargean di stasiun. Sesampai di stasiun langsung saja saya mencoba menelpon bapak, kok tidak bisa, menelpon kakak, kok gak bisa lagi..langsung disconekt mulu..ni. Wah ternyata, gak hanya baterei yg habis, pulsa juga habis..hahahaha.. payah betul saya. Jam 8.30 saya pun dah sampai dirumah, Namun sebelumnya saya membelikan sop dan sayuran kesukaan ibu saya, di Jaten (daerah Ibu kota Kecamatan saya). Maklum Ibu lagi kurang sehat, jadi gak ada yang masak...

Petualangan di hari minggu pagi yang pertama adalah Njagong di tempat sesorang yg sedang berbahagia, dia adalah sahabat saya sejak SMA. Lama sekali, saya kehilangan kontak dengan dia, hampir satu tahun lamanya, dan satu minggu sebelum acara nikahan dia sms "hi moy, gimana kabarmu? eh aku meh nikah, undangane tak kirim kerumah, dateng ya".

weeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeehhhhhhhhhhhhhh  ........surprises in the morning.....
"Alhamdulillah baek, InsyaAlloh saya datang" sent.

Hampir saja saya tidak jadi pulang ke solo, karena ada tugas eksplorasi ke Palembang lagi, dan untungnya senior saya bisa berangkat menggantikan saya. "Thanks mas bro"
Saya sebenarnya ingin dateng dengan adek sepupu saya, eh..malah dia nya bilang "mas aku nitip yo" lho, piye to iki? kata saya. Ya sudah lah saya datang sendiri membawa kado yang sudah di bungkus rapi oleh kakak ipar saya.

Acaranya sangat meriah dan disana pun saya melihat dia berbahagia dengan misua-nya,  misua-nya  merupakan senior dia 2 tingkatan (kalo gak salah denger), saat kuliah di UGM. Kebaya muslim berwarna merah hati sangat serasi mereka kenakan. Dalam hati saya berbicara sendiri "Kapan gilaran saya ya.."
 
Tapi, terkadang jadi keinget, momy tell me, "kamu tu jangan mikir aneh-aneh dulu, masih kecil"
Wah, padahal saya dah ngebet banget nih..(hahahaha imaginasi saya melayang kemana-mana). Tapi, yg jelas ridho Alloh juga terletak pula pada ridho orangtua, makanya ya.. masih menikmati aja kesendirian ini (padahal, tepatnya jomblo mania..so sad)

"Jodoh itu terkadang dikejar-kejar tidak tertangkap. Tapi terkadang tanpa di kejar datang sendiri. Yang paling penting adalah dekat dengan Alloh dalam keadaan susah dan bahagia, senang dan sedih"
Kalimat ini yang selalu saya ingat.....

Pukul satu saing saya pulang, dan di sore harinya saya bermain dengan keponakan saya, menjelang jam 5 saya membantu ibu didapur, walaupun hanya sekedar memanaskan sayuran dan nyuci piring. Malam, sehabis isak saya bersiap-siap untuk kembali ke Ibu kota, untuk mencari nafkah..(haha maklum jadi buruh pabrik).
sebelum ke stasiun seperti biasa saya cium tangan bidadari saya dan berpelukan..sambil meminta do'a restu beliau berdua...

-bey mom-  moga lekas sembuh, cepat bisa lari lagi.. -love u so much mom-

Kakak saya pun telah bersiap mengantar saya. At Stasiun Balapan, sepi, tidak seramai biasanya. mungkin juga karena kereta saya berangkat terlalu larut. tepat jam 9.30 saya bersiap naik, tiba-tiba terdengar "kerta Bima sedang dalam perjalanan menuju ke balapan, sekitar 30 menit lagi baru sampai stasiun Balapan" Em...dasar,transportasi indonesia jaya raya, tidak pernah bisa bisa telat, tapi telat sekali. Begitu kereta datang saya langsung memasuki gerbong saya, terlihat banyak penumpang yang sudah tertidur lelap di balik selimut.

Diantara banyak sekian penumpang, kelihatannya saya merupakan salah satu penumpang yg masih terjaga dari kendaraan kulkas berjalan ini (lha, keretanya dinginya minta ampun). Untungnya saya masih memiliki novel yg belum selesai dibaca. Anehnya, novel tersebut selesai dibaca saya masih belum juga bisa tidur..(mungkin karena tadi siang saya tidur pulas kali ye)

Begitulah petualangan sabtu-minggu saya..
-Jakarta  I am come back-