Sabtu, 13 Agustus 2011

Terima kasih untuk Ayahku yang Semi-Militer dan Agak pelit

Ayah
Ayah adalah seseorang yang sangat berperan dalam kehidupan saya. Ayah saya seperti kebanyakan Ayah yang lain. Namun, bagi saya Ayah saya adalah Ayah nomer satu di dunia. Ayah adalah seseorang yang sangat disiplin. Beliau disiplin dalam segala hal, disiplin waktu, displin dalam kerja dan displin dalam keuangan. Ayah tidak pernah bisa menganggur, beliau selalu menyibukkan dirinya sendiri dengan berbagai kegiatan, baik kegiatan ringan maupun kegiatan yang menyebakan putra-putranya sedikit banyak terlibat. Saya masih ingat betul setiap hari minggu baik saya ketika masih SMA maupun saya libuaran kuliah, saya hampir tidak pernah berleha-leha untuk merebahkan tubuh malas ini. Kalian tau kenapa? itu karena saya selalu mendengar suara beliau yang sedikit berisik dengan berbagai kegiatan-nya, dan mau tidak mau saya harus berpartisi dalam ceremonila tersebut, walaupun hanya sekedar setor muka saja (sory yah..). padahal dalam pikiran saya sunday is holiday, but at the real, sunday is tired day ( tau ni grmaernya salah ato bener yang penting nulis).

Disaat saya masih SD, Ayah adalah petani yang sangat rajin, beliau sering pulang malam dan berangkat sebelum sang mentari terbit. Ayah, suka menengok sedikit lahan pertaniaan kami (mirip dengan kakek). Ketika pulang dari kantor, beliau menyempatkan istirahat sejenak sekedar makan bersama dan menanyakan bagaimana sekolah kami. Sehabis isak beliau pun memlanjutkan aktivitas-nya untuk mengecek sistem perairan sawah kecil kami. Terkadang, kalo beliau tidak sempat melakukannya dimalam hari. Pagi dini hari beliau melakukan kegiatan tersebut, dan pulang ketika adzan subuh terdengar.. (hard worker yah). Namun, setelah saya beranjak SMA, Ayah sudah tidak melakukan kegiatan tersebut, mungkin karena kesibukan beliau dengan berbagai pekerjaannya, baik kantor atau pun bahan kimia yang saya tidak banyak mengerti. mungkin juga hati Ayah lebih condong kepada bahan-bahan kimia, dari pada lumpur dan air sungai. Oya, Ayah saya bekerja di lab. perusahaan tradisional pada divisi reserch and development. Di tempat kerja ini lah, beliau menemukan bidarinya (ibu saya) yang merupakan atasanya (ibu saya adalah QC).

Ayah saya adalah profesor bagi saya. Yah..profesor serba bisa. Ayah sering membuatkan kami, beberapa produk kebutuhan sehari-hari, yang tidak pernah terfikirkan oleh saya, seperti membuat sampo, sabun, hand and body lotion, minyak telon, obat batuk, balsem dll. (saya tidak tahu, apa maksud Ayah? apakah kami adalah kelinci percobaan baginya, atau Ayah ingin menunjukkan bahwa ini lho produk Ayah, atau mungkin biar irit kali ya.. hohoho). Namun, kami cocok menggunakan semua invoasinya, dan tak jarang beberapa tetangga meminta kreasi Sang profesor tersebut untuk mereka konsumsi. Suatu ketika ada tetangga yang sakit batuk, dengan ijin Alloh Ta'ala beliau meminum obat buatan profesor saya, alhamdulillah sembuh. Seminggu setelah Beliau sembuh, beliau memberikan Sebotol Kecap Banggo hitam berukuran Besar kepada Ayah, "Pak Dhe ini buat Masak Budhe" kata beliua kepada Ayah. Melihat itu saya merasa sangat kagum pada Ayah. Dari kejadian tersebut, beberapa produk kreasi sang profesor di jual oleh Ayah maupun tetangga, keluar daerah disaat Ayah Pensiun, lumayan untuk menopang kehidupan kami dan memberikan kegiatan serta berbagi pekerjaan kepada para tetangga. Oya, kakak kedua saya yang paling sering menggunakan semua inovasi Ayah ketika dia kualiah.

Ayah saya adalah Ayah semi militer. Kedisiplin Ayah, tidak pernah berkurang dan tidak pernah pandang bulu. Saya masih ingat betul ketika kecil, saya menangis tak henti-henti karena sesuatu hal. Entah apa yang dibenak beliau, saya langsung digendong di dimasukkan kedalam bak mandi yang tinggi nya sedada saya waktu itu. "Kalo kamu berhenti menangis, Ayah akan mengankat mu" Kata Ayah dengan serius. Sejak saat itu saya selalu berhenti menangis jika Ayah menyuruh "Diam".

Makan Lesehan adalah favorit Ayah dan keluaraga kami. Ketika makan bersama Ayah, selalu mengusahkan kita untuk selalu tidak berdebat. Maklum karena kami berempat laki-laki semua, pejantan yang memiliki ego tinggi (sebenarnya lima bersaudara, "padawa lima" kalo kata orang jawa, namun kakak saya nomer dua, mendahului kami ketika masih bayi). Terdakang kami sering bertengkar kecil ketika makan bersama, terutama saya dan kakak saya nomer tiga. Tak ada angin tak ada hujan, Ayah langsung menampar saya dan berkata diam (sakit rasanya, mau nangis tapi malu didepan semua kakak saya). Hal, itu dilakukan Ayah untuk menyudahi pertengkaran kecil saya dangan kakakku yang tampan tersebut (tapi, mengapa aku yang kena tampolan tersebut?, kenapa tidak kakakku? ah, ya sudah lah setidaknya saya menjadi tidak cengeng lagi). Hal itu, ada hikmahnya juga, mungkin supaya kami tidak tersedak ketika makan, dan supaya kami cepat menyelesaikan makan.

Teringat makan, teringat lauk-pauk. Ayah beserta bidadari kami (ibu saya, lha soalnya, ibu saya tercantik dirumah tidak ada perempuan lain selain beliau, setelah kakek meninggal, ibu punya pesaing berat yaitu nenek kami) selalu membawa pulang semua jatah lauk mereka berdua, untuk diberikan kepada kami. Terkadang jatah lauk Ayam, dibagi oleh ibu menjadi empat bagian, dan terkadang bandeng presto spesial. Makasih Ibu dan Ayah , :( 

Ayah selalu disiplin dalam sistem keuangan. Setiap habis gajian Ayah selalu menuliskan pengeluran berdasarkan skala prioritas. Yang selalu menjadi sekala pertama adalah SPP, tepatnya SPP kami berempat, setelah itu baru kebutuhan yang lain. Prinsip Ayah "Pendidikan adalah Nomer satu". Ayah pernah berkata kepada mertua dari pernikahan kakak pertama saya, ketika melamar kakak ipar saya, beliau mengatakan bahwa "kami adalah keluarga sederhana, kami tadik memiliki harta yang berharga, namun kami memikili investasi pada pendidikan" (menyentuh Yah, bangga rasanya).

Pelajaran management keuangan sudah ditanamakan Ayah sejak dini, yaitu ketika memberikan uang saku kepada putra-putranya. Pada saat sekolah SD, kami diberikan uang saku harian, memasuki SMP, uang saku diberikan mingguan  dan SMA serta Kuliah uang saku di berikan bulanan. Tujuan dari semua itu supaya kami mampu mengatur semua kebutahan kami masing-masing, dan tanggung jawab terhadap pengeluaran tersebut. Ayah memberikan kebebasan kepada kami dalam menggunakan uang tersebut, asal bermanfaat, terserah mau sekali habis sebelum jatah refiil, atau mau dibuat sisa untuk ditabung, tak jarang saya berpuasa jajan selama beberapa minggu agar bisa membeli perangkat komputer atau pun kaos kesenangan saya. Di saat kuliah saya lebih sering besar pasak dari pada tiang listrik (hehe), ya iya lah kebutuhan ngeprint tugas, jilid, fotokopi buku, kegiatan lapangan dan sebagainya yang mungkin tidak diketaui oleh Beliau (maklum, Ayah Lulusan SMA, SMA yang sangat luar biasa). Al-hasil saya mencari pekerjaan sampingan ketika kuliah, baik jaga toko (toko bude saya tepatnya, tapikan lumayan, dapet 10 ribu kalo mengantar barang, dan terkadang dapet 50 ribu/bulan kalo mengantar jemput keponakan saya yang manja dengan segala kegaitannya yang tidak pernah saya lakukakan selama SMP, bukan manja deng..dimanjakan hehehe pis nak), sampai mengajar di Bimbel, asisten maupun projek-projek yang tidak jelas, yang penting halal lah. Dan, Al-hamdulillah nya saya mendapatakn beasiswa sejak semester kedua hingga akhir kuliah. Jadi sedikit membuat saya bernafas panjang.. hohohoho.

Ayah adalah seseorang yang sangat Marah, ketika kami pulang telat. Pernah suatu ketika, kakak pertama saya pulang terlambat, lebih dari jam 9 malam. Ternyata kakak pertama saya, ketiduran naik bus, ketika pulang sekolah kegiatan ekstra, hingga ke arah kota Sragen, hingga Ayah memacu motor tua-nya menuju Jalan Raya Solo-Sragen, untuk menunggu semua kendaran bus yang lalu lalang, yang biasa Kakak saya tumpangi. (Kakak Pertama saya Sekolah di SMA terfavorit di Kota Solo jadi agak jauh dari rumah, Namun bakat itu tidak menurun pada adik-adiknya termasuk saya, kami sekolah SMA di tingkat Kabupen saja). Ada lagi cerita Ayah marah, Ketika kembaran saya pulang telat ketika selasai Les Bimbel di Solo. Awalnya kami berangakat bersama, dan ketika pulang dia memberi tahu kalo dia Pulang bersama Udin (Sahabat dekat kami,yg sudah seperti saudara), Namun meraka tidak memeberi tau saya kalo mereka pergi ke Gramedia (Kalo gak salah ingat), dan maklum saja, waktu itu kami belum boleh menggunakan HP (ah, tepatnya tidak mampu membeli HP hehehe) sehingga tidak ada komunikasi dua Arah. Sudah tentu ketebak, Saya di tanya-tanya oleh Ayah saya dan Ayah Udin, "kemana merka berdua, tadi pulang kenapa gak bersamaan, kenapa, kenapa, kenapa" Serasa saya adalah tersangka maling Ayam yang diintrograsi oleh Petugas kepolisan (keliatnnya ini agak berlebihan, tapi ini benar saya alami, so sad, tak berdaya menjawab) Dan Satu jam setelah itu, mereka pun muncul dengan wajah tak bersalahnya (kurang ajar kalian... jadi saya yang kena marah nih). Dibalik Wajah marahnya, tersimpan hati yang khawatir. Ya, Seorang Ayah, mungkin Marah karena Beliau Khawatir, waktu itu mungkin pertama kalinya kami punya SIM, Ayah khawatir kalo kita kelayapan kemana-mana, ke Arah yang tidak jelas. Padahal Ayah Tau bahwa kami sudah beranjak 17 tahun waktu itu, mungkin itu tadi kekhawatiran seorang Ayah kepada putra-putranya.

Ayah adalah anak yang sangat sabar dan berbakti. Ayah saya dengan segala kesibukan-nya Beliau merawat dan menyapih nenek saya sampai sekarang dengan Bidadri saya (mereka berdua bekerja sama dengan sangat kompak). Namun, beberapa bulan ini Bidadari kami sakit, Kaki beliau musti di Gip dan berjalan menggunakan krek (tongkat penyangga tubuh), Ayah dengan sabar merawat mereka berdua, tak jarang mereka bertiga (ya bertiga, karena ditambah cucu kesayangannya, anak pertama dari kakak saya). Keren yah, semoga suatu saat nanti aku bisa merawat dan menyapih kalian berdua, walaupun itu semua tidak akan bisa membalas semua budi baik Kalian berdua (bidadara dan bidadari ku).


Ayah terimakasih untuk semua nya, Ayah, maaf kan aku telah membuatmu khawatir, telah membuat mu pusing dengan segala rengekan dan permintaan ku, Ayah maafkan aku telah makan beras mu banyak sekali...

Terimkasih untuk Ayah ku yang Agak Pelit. 


"I love u dady, I am pround to be your son"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar